Narasi Islam hari ini banyak didominasi oleh perilaku keras dan
kasar. Mimbar-mimbar ceramah dan tulisan banyak memuat diksi-diksi yang
tidak ramah dengan keragaman dan perbedaan. Sebut saja diksi kafir,
halal-haram dan surga-neraka jamak kita temui di mana-mana. Belum lagi
tindak teroris yang banyak memakan korban jiwa dan merusak sejumlah
fasilitas publik. Saya rasa pada titik ini, ucapan Gus Dur beberapa
tahun lalu perlu dirumuskan ulang sebagai laku alternatif berislam,
bahwa kita membutuhkan Islam yang ramah, bukan Islam marah.
Sabtu, 04 Januari 2020
Sabtu, 21 Desember 2019
Berislam Itu Luwes
Perbaikan
akhlak menjadi misi prioritas yang diemban Nabi Muhammad dalam
menjalankan dakwahnya. Masa lalu, sebelum Nabi Muhammad lahir, tanah
Arab dipenuhi laku yang tidak beretika. Bayi perempuan dibunuh,
perempuan disamakan dengan properti, perkelahian antar suku yang tidak
pernah usai, dan seabrek etika yang tidak berperikemanusiaan. Tapi tidak
menafikan juga, bahwa peradabannya pada masa itu sudah lumayan maju.
Jumat, 13 Desember 2019
Literasi Di Kota Ketiga
Geliat literasi menjadi problem yang hanya
diperhatikan oleh segelintir kalangan, kelompok, orang. Bahkan
pemerintah pun kadang alpa untuk melihat sudah sejauh mana literasi
bergerak di daerah-daerah, apalagi yang jauh dari akses. Padahal jelas,
literasi menjadi bagian dalam rangka mencerdaskan kehidupan anak bangsa.
Pembangunan taman baca, lingkaran diskusi, koleksi buku di
perpustakaan, dan festival bazar buku menjadi serentetan aktivitas yang
dijalankan dengan ngos-ngosan oleh segelintir kalangan, komunitas,
atau orang.
Sabtu, 02 November 2019
Menjadi Jawa Sekaligus (Ber)Islam
Perdebatan manusia Jawa yang beragama Islam sudah berlangsung sejak
lama. Perdebatan ini dipicu oleh pertanyaan apakah agama Islam yang
dianut oleh manusia Jawa benar-benar agama Islam yang autentik? Atau,
laku keberislaman manusia Jawa merupakan warisan dari agama-agama yang
datang sebelumnya? Kedua pertanyaan ini santer terlihat ketika kita
membaca buku-buku yang membahas persoalan Jawa dan Islam.
Senin, 02 September 2019
Nestapa Cinta Perempuan Dari Tanah Padang
Buku itu terselip di antara sekian buku yang tak beraturan tata
letaknya di rak baca Aula Kantor Desa Titidu, Kwandang, Gorontalo
Utara. Saat momen penataan buku supaya terlihat rapi, mata saya
tertuju pada buku itu. Tubuh buku berdebu. Saya menuduh banyak orang
sudah acuh tak membaca buku itu. Termasuk buku lain di rak baca ini yang
bernasib sama.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Belakangan ini kita dikejutkan oleh banyak kejadian yang tidak mengenakkan. Kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan terus-menerus digenjot hab...
-
Mari sejenak kita menengadahkan tangan dan menundukkan kepala. Berdoa untuk para korban semoga mendapat tempat apik di sisi-Nya. Bagi kelu...
-
Sore ini saya bareng Mas Agus Ali Imron berencana untuk mengunjungi beberapa tempat. Acak memang. Namun tempat-tempat itu menjadi saksi seja...


